Langsung ke konten utama

When You Say Nothing At All [PART 3]

And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I'm praying you're the one I build my home with
I hope I love you all my life

Lagi.
Tak mampu menyuarakan kata hati seperti biasa. Antara hati, otak, dan mulutnya rupanya tak mampu berkoordinasi dengan baik, sehingga menghasilkan beberapa kata dan frasa yang benar-benar mampu mewakilkan segala ungkap hati. Bibir merah itu jarang membuka dan menyuarakan kata-kata kasih dan perwakilan hati—lebih cenderung terbuka untuk hal-hal diluar daripada itu. Hanya sekedar mengucap tiga kata universal untuk meyakini hati tempatnya melabuh saja terasa begitu.. sulit. Dia berbeda tipe dengan para entitas yang mampu mengumandangkan kata-kata sayang dalam ritme yang berulang di rentan waktu yang sempit. Dan, ucapan yang keluar dari mulutnya tadi adalah benar adanya—setidaknya untuk kala ini, hanya saja sengaja di-ambigukan. Dia tak mau berhenti dicintai oleh pemuda Korea tersebut, namun.. apakah dia berhak memaksa hati si pemuda untuk selalu dan tetap mencintainya di setiap detik yang ada? Terserah pemuda itu mau tetap mencintainya atau tidak, namun dirinya akan tetap mencintai Joong, semampu yang ia bisa.

I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?

Tubuh gadis tanggung hufflepuff itu kini tak lagi bebas. Terkunci oleh kedua lengan kekar si pemuda yang amat ia kasihi. Perlahan gadis itu menutup kedua bola mata karamelnya. Merasakan setiap detik kenyamanan dan kehangatan yang menyelimuti jiwa dan raganya kala ini, meski tangan miliknya tak mampu balik merengkuh pemudanya. Semoga pemuda itu memaafkan tangannya yang mendadak lumpuh sekarang. Ah, seakan semua bagian tubuhnya bekerja sama dengan begitu buruk—tak sejalan dengan keinginan hati. Ia dapat merasakan kelembutan dalam susupan tangan Joong pada surai keemasannya, secara tak langsung melenturkan postur tubuhnya yang kaku. Hatinya berdesir pelan saat sebuah kecupan lagi-lagi mendarat dikeningnya. Nafas pemuda itu berembus di wajahnya, membuat kepalanya seakan berputar.

“Hal—“

Pemudanya bergerak mundur sedikit, melepaskan tautan tangan dari tubuhnya, menatapnya penuh kasih. Sebersit kecewa sempat menyentuh hati si gadis musang. Tak bisakah lebih lama lagi ia mendapatkannya? Ah, terdengar begitu egois.. seakan esok ia tak akan mendapatkannya lagi saja.

Haley termangu kosong, sebelum bibir Joong menempel di bibirnya, dan gadis itu tak mampu melawannya. Bukan karena pemuda itu kasar, tapi karena pertahanan dirinya langsung ambruk begitu bibir mereka bertemu. Gadis Amerika itu berdiri diam tak bergerak. Matanya tertutup, jari-jarinya menekuk dan membentuk kepalan dikedua sisi tubuhnya sementara tangan Joong merengkuh bahunya—dan bibir Joong kembali menyentuh bibirnya dengan semangat dan lembut. Tak peduli dengan apapun komentar dan pandangan orang tentang apa yang mereka perbuat di tempat umum kali ini.

Danau hitam ini, milik kami sekarang.

Saat bibir mereka terpisah sejenak, kepalanya mulai terasa pusing. Pemuda itu menarik tubuhnya, kembali memeluknya. Ia bisa merasakan tubuh Joong yang kekar menempel di setiap lekuk tubuhnya, dan desah hangat nafas Joong kembali menerpa wajahnya. Gadis itu diam, nanar, menunggu nafasnya tenang kembali dan ia merileks. Tangan Joong menepuk pelan kepalanya, menyetrumkan sekejap ketenangan yang mampu mengorganisir batinnya.

Si gadis hanya mengulum bibir, ketika pemudanya menanyakan perihal ajakan agar Joong dapat memijak kaki di tanah kelahirannya, Amerika. Tersadar bahwa pemudanya belum pernah ia undang ke mansion putihnya di Forks. Belum Haley perkenalkan secara resmi pada mom, dad, dan Jasper—padahal usia hubungan kasih mereka sudah hampir menginjak tahun ketiga.

"Whenever you want.." Berbisik pelan dan mengulas sebuah senyuman tipis. Dua mata cokelatnya menatap teduh sepasang mata senada milik si pemuda. Jari-jarinya membelai wajah Joong dengan rakus. "Liburan musim panas, hm?" tanyanya. Haley melepas kedua tangannya, menggerakkan kaki mungilnya satu langkah kemudian merunduk, mengambil keranjang makanan yang menjadi saksi bisu atas beberapa paradigma sepasang insan itu tadi. Memutar tubuh, dengan keranjang makanan di genggaman tangan kanannya.

"Aku tidak membawa ini untuk disia-siakan."

Gadis itu mengangkat keranjang makanan dengan kedua tangan dan menyodorkannya ke arah si pemuda singa kesayangannya. Tertawa kecil, kali ini tulus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

`a curiosity`

Dahaganya seakan tak pernah terpuaskan. Kendati pun ia sudah minum terlalu banyak, tetap saja ia merasa selalu dan selalu saja didera dehidrasi tingkat tinggi. Haus kepalang tanggung— x X x Semua berawal dari pertemuan mereka yang tidak (di)sengaja, di malam keenam di awal tahun kelinci. She look, she hear, she think— she know . Lalu datanglah itu; ` a curiosity `. Lantas dicarilah itu informasi mengenai siapa dia, dia siapa . Dan sekilat anak kecil menghabiskan kembang gulalinya, secepat itu pula dosis keingintahuannya meningkat. Dari yang sekedar hanya ingin tahu, menjadi ingin lebih tahu, lalu ingin semakin lebih tahu lagi . ..lagi, lagi, lagi, dan lagi . Terus saja ia mencari dan menggali informasi tiada henti, karena semakin ia tahu tentang sosoknya, semakin bertambah pula rasa kagumnya. Membuatnya seakan sedang dimabuk candu, seperti layaknya orang yang sedang sakau. Kinda.. silly . Dan ia bersumpah — atas nama Nurdin Halid yang terkutuk...

Barchelor Party

Musik berdentum, menyuguhkan alunan musik techno dengan irama yang menghentak. Sampanye mengalir. Gelas-gelas berdenting. Bau anggur dan sigaret mengepung di udara. Entah sudah berapa botol minuman berkadar alkhohol tinggi— mulai dari jenis champagne, vodka, absinte, grappa, tequila, martini, limoncello hingga genepi —yang sudah dikosongkan isinya dalam tempo singkat oleh belasan pemuda yang tengah berpesta dalam sebuah bar mewah Venezia. “Hey, gimme a glass of Grappa..”  Boyd menuangkan minuman beralkohol itu sedikit terlalu banyak hingga sebagian tumpah membasahi lantai kayu dari bar yang sudah dipesan ekslusif selama dua malam. Arvid meraih gelas flute dari tangan si pemuda yang sudah dalam keadaan setengah mabuk, menghabiskan liquor bening dengan harum anggur berbasis pomace brendi itu dalam sekali teguk. It's the last time to break all the rules Let's all get drunk tonight “Wanna smoke?” Auror muda itu mengangguk singkat dan tak menolak ketika Joseph...

The Day (Part 1)

Basilica di San Marco, Venice Minggu yang cerah, dimana horizon memamerkan langit biru yang berawan dengan hamparan cahaya berwarna kekuningan. Lonceng menara Campanile berdentang nyaring, membahanai basilica dan sekitarnya, pertanda jarum panjang jam sedang berada tepat di numera lusin.   Sekawanan merpati penghuni Piazza serentak membubarkan diri, mengepakkan sayap-sayap keabuannya ketika iring-iringan pengantin wanita tiba di depan sebuah bangunan yang merupakan perpaduan dari arsitektur bergaya Byzantium, Gothic, Romawi, serta Turkish. Basilica di San Marco, yang sempat terbakar dalam pemberontakan melawan Doge Pietro Candiano IV di abad ke-9, yang terlihat bagaikan istana kerajaan nan megah dalam negeri dongeng—dan si mempelai wanita yang baru saja datang adalah jelmaan dari figur Sang Tuan Putri. Tak butuh waktu lama bagi si mempelai pria beserta para hadirin yang sudah berada di dalam untuk menyadari bahwa sang pengantin wanita telah bersiap memasuki basilica....